Welcome to My Blog

Saran dan kritikan dari anda sangat dibutuhkan demi perbaikan mutu blog ini

21 Mei, 2011

Makrokosmos

Orang-orang dahulu berimajinasi tentang alam atas tempat dewa-dewa sehingga disebutnya ke-hyang-an atau kayangan, kemudian di bawahnya adalah bumi kita ini, disebutnya alam tengah atau mayapada tempat manusia dan alam bawah tempat para dedemit. Sekarang orang membagi alam ini hanya dalam dua bagian, yaitu makrokosmos dan mikrokosmos. 
Makrokosmos adalah alam luas, yaitu alam di atas kepala kita menurut orang-orang terdahulu itu. Alam di atas kepala kita kelihatannya berbentuk setengah bola yang disebut bola langit. Benda-benda yang ada pada bola langit disebut benda-benda langit. Mikrokosmos, alam lingkungan kita ini, juga cocok dengan alam tengah orang-orang terdahulu. Termasuk dalam mikrokosmos adalah juga molekul-molekul, atom-atom (zarrah) yang terdiri atas komponen-komponen proton, neutron, elektron dan komponen-komponen zarrah lainnya, baik berwujud materi maupun dalam wujud energi (immateri). Mikrokosmos yang jenis terakhir ini sudah tidak cocok lagi dengan imajinasi orang-orang terdahulu, yang mereka sebut dengan alam bawah itu. 
Keseluruhan makrokosmos dan mikroksomos disebut Alam syahadah (physical world), yaitu makhluq ciptaan Allah SWT yang dapat ditangkap pancaindera kita secara langsung maupun secara tak langsung yaitu dengan pertolongan instrumen laboratorium. Orang-orang atheist, yang tidak percaya adanya Tuhan, agnostik, yang tidak mau pusing tentang ada ataupun tidak adanya Tuhan, deist, yang percaya akan adanya Tuhan tetapi tidak percaya tentang adanya wahyu, ketiga golongan itu karena tidak beragama bergabung dalam aliran filsafat positivisme, yang hanya percaya akan adanya sesuatu apabila dapat ditangkap pancaindera. Ilmu Pengetahuan yang diajarkan di sekolah-sekolah umum dibangun di atas landasan aliran filsafat positivisme ini. Insya Allah kita akan bahas ini dalam kesempatan yang lain. 
Yang akan dibahas sekarang adalah makrokosmos. Bumi kita ini mempunyai saudara-saudara benda-benda langit yang disebut planet, mengedari induknya yaitu Matahari, dan membentuk sebuah sistem yang disebut tatasurya. Planet-planet itu, termasuk bumi yang digolongkan pula sebagai benda langit planet, mengorbit matahari hampir-hampir pada sebuah bidang datar. Paling dekat ke matahari mengorbitlah Utarid (Mercurius), kemudian di luarnya Kejora (Venus), lalu berturut-turut bumi, Marikh (Mars), Mustari (Jupiter), Zohal (Saturnus), Uranus, Neptunus dan paling luar Pluto. Utarid, Kejora, Marikh, Mustari dan Zohal dapat dilihat dengan mata telanjang, artinya tanpa pertolongan teropong-bintang. Di antara Marikh dengan Mustari mengorbit bungkahan-bungkahan batu besar disebut asteroid, diperkirakan sebuah planet yang hancur berantakan oleh suatu sebab yang belum diketahui, disebut biasa pula disebut dengan planetoid. Sehingga pada bagian luar bumi kita ini beredar 6 planet + 1 planetiod = 7 benda langit. 
*** 
Ilmu yang menyangkut dengan makrokosmos ini disebut ilmu falak atau astronomi. Dalam ilmu falak jarak tidak diukur dalam kilometer, melainkan dalam lamanya jarak itu ditempuh cahaya. Adapun laju cahaya, jika dibulatkan, 300 000 kilometer dalam satu detik. Cahaya yang dipancarkan matahari mencapai Utarid dalam waktu tiga setengah menit, Kejora enam menit, bumi delapan setengah menit, demikian seterusnya cahaya itu akan mencapai Neptunus dalam empat jam, Pluto lima setengah jam. Benda langit yang terletak di bumi adalah sebuah asteroid bernama Hermes jauhnya satu seperempat detik cahaya dari bumi, kemudian bulan jauhnya satu setengah detik cahaya dari bumi. Jarak yang satu setengah detik cahaya ini adalah jarak terjauh yang pernah mampu ditempuh manusia, berkebangsaan Amerika, yaitu dengan mendaratnya Neil Armstrong di bulan. 
Gerak benda-benda langit diatur Allah SWT sebagai Ar Rabb, Maha Pengatur, melalui TaqdiruLlah yang disebut al Falak. Istilah ini diambil dari bahasa Al Quran: Kullun fiy Falakin Yasbahuwna (S.Yasin,40), tiap-tiap sesuatu berenang dalam falaknya (36:40). Al Falak ini adalah Jalur Geodesik menurut Albert Einstein (1879 - 1955), atau gravitasi menurut Sir Isaac Newton (1642 - 1727). Disekitar materi yang dalam hal ini benda langit, ruang menjadi lengkung membentuk jalur geodesik yang berwujud medan gravitasi. Jadi jika makrokosmos ini dilihat secara matematis seperti penglihatan Einstein, maka Al Falak adalah Jalur Geodesik, dan melalui jalur inilah benda-benda langit bergerak. Sedangkan apabila makrokosmos ini dilihat secara mekanistik, maka Al Falak itu adalah medan gravitasi yang mewujudkan gaya tarik menarik, seperti penglihatan Newton. Pemakaian istilah SaBaHa, Yasbahuwna, berenang, dalam ayat yang dikutip di atas insya Allah akan dibahas dalam kesempatan lain. 
Pandangan yang berbeda menghasilkan rumus yang berbeda. Newton niscaya kecewa andaikan masih hidup. Ternyata rumus tarik menarik gaya gravitasi Newton hanya berlaku bagi matahari dengan planet Pluto ke dalam sampai dengan planet Kejora. Planet Utarid yang terdekat ke Matahari tidak lagi tunduk pada rumus gravitasi Newton. Orbit Utarid bukan garis lengkung tertutup, melainkan terbuka. Yang berlaku bagi gerak Utarid adalah persamaan Jalur Geodesik Einstein, seperti tersebut dalam Teori Relativitas Umum Einstein. Walhasil rumus Newton adalah rumus pendekatan, penerapannya terbatas dalam medan gravitasi matahari mulai Kejora ke luar hingga Pluto. Syukurlah bumi terletak dalam daerah di mana rumus Newton masih berlaku. Para insinyur mesin, sipil dan bangunan kapal boleh bergembira masih dapat memakai mekanikanya Newton dalam hitung-menghitung mendisain atau merancang bangun konstruksi mesin, bangunan jalan dan air, dan bangunan kapal. Tidak perlu mereka itu dipusingi dengan rumus Einstein, oleh karena di bumi ini hasil rumus Newton dan Einstein perbedaannya boleh dikatakan tidak ada. 
Apa yang ada di luar tatasurya tempat kita ini? Oh, masih banyak, tak terhitung banyaknya bintang-bintang yang sebanding dengan Matahari baik dari segi panasnya, maupun cemerlangnya, ataupun besarnya. Bahkan matahari termasuk kelas sedang, bukan kelas berat. Dalam ilmu falak bintang-bintang sejenis matahari disebut bintang tetap, oleh karena dilihat dari bumi ini letak bintang-bintang tersebut pada bola langit letaknya tetap antara satu dengan yang lain. Tidak seperti dengan planet-planet yang letaknya bergeser antara satu dengan yang lain pada bola langit. Itulah sebabnya dinamakan planet, dari bahasa Yunani yang artinya musafir. Planet-planet itu, yang tidak melekat pada bola langit, bermusafir di antara bumi dengan bola langit. Al Quran memberikan pembagian jenis bintang-bintang tersebut berdasarkan atas kriteria keadaan cemerlang dan letaknya, bukan berdasarkan atas kriteria geraknya. Insya-Allah ini akan dibahas dalam kesempatan yang lain. 
Gerak benda-benda langit pada bola langit dilihat dari bumi disebut gerak semu, bukanlah gerak yang sebenarnya. Matahari, bulan dan bintang-bintang terbit di sebelah timur dan terbenam di barat itu adalah gerak semu, sedang gerak yang sebenarnya adalah bumi berpusing pada sumbunya. Maka pembagian berdasarkan kriteria gerak benda langit dalam dua jenis: bintang tetap dan planet sudah tidak cocok lagi, oleh karena: Pertama, menurut observasi gerak semu bintang-bintang tetap itu ternyata letaknya tidaklah tetap antara satu dengan yang lain, kedua, berdasarkan gerak sebenarnya letak bintang-bintang yang dikatakan bintang tetap itu, tidak ada yang tetap letaknya antara satu dengan yang lain karena semuanya berenang dalam falaknya. 
Bintang tetap yang terdekat ke matahari diberi bernama Alpha Centaury, jaraknya dari matahari empat setengah tahun cahaya. Jutaan bintang tetap membentuk gugus yang disebut galaxy. Adapun galaxy tempat tatasurya berada disebut galaxy Milky Way. Galaxy ini bentuknya menyerupai dua piring saling ditelungkupkan, atau seperti lensa cembung. Tebalnya 15 000 tahun cahaya, diameternya 90 000 tahun cahaya. Apabila Milky Way dilihat pada bagian telungkup maka kelihatan seperti spiral, makin ke pusat makin tebal berisi bintang-bintang tetap. Matahari terletak pada lengan spiral sekitar 30 000 tahun cahaya dari pusat Milky Way. 
Galaxy-galaxy membentuk pula kelompok yang lebih besar yang disebut super galaxy atau cluster. Ada super galaxy yang terdiri atas ribuan galaxy, tetapi ada pula super galaxy yang kecil yang terdiri hanya atas 13 galaxy. Cluster yang hanya terdiri atas 13 galaxy ini diberi bernama Local Group, yang salah satu anggotanya ialah Milky Way. Galaxy yang terdekat dari Milky Way diberi bernama Andromeda, bentuknya dan besarnya hampir sama dengan Milky Way, jauhnya sekitar 800 000 tahun cahaya. Banyaknya jumlah super galaxy adalah jutaan. 
Adapun gerak benda-benda langit seperti berikut. Bulan mengelilingi bumi, demikian pula planet-planet yang mempunyai satelit dikelilingi oleh satelit-satelitnya. Palanet-planet dan komet-komet mengelilingi matahari, dan matahari mengelilingi pusat Milky Way. Super galaxy yang jutaan itu bergerak saling menjauhi. Makrokosmos sedang berkembang, bertambah besar. 
Seperti dikatakan di atas, di sekitar materi ruang menjadi lengkung. Maka makrokosmos itu lengkung. Andaikata makrokosmos statis, tidak berkembang maka cahaya yang melaju terus-menerus akan tiba di tempat semula ia dipancarkan. Akan tetapi oleh karena makrokosmos membesar maka cahaya tidak akan mencapai tempatnya semula ia dipancarkan. Makrokosmos yang lengkung itu dapat dihitung kelengkungannya (curvature). Dengan persamaan medan Einstein dan dengan data rapat rata-rata (average density) hasil observasi Edwin Hubble dapatlah dihitung curvature makrokosmos, hasilnya 35 bilyun tahun cahaya. 
Demikian luas makrokosmos alam syahadah ciptaan Allah SWT, maka tidak pada tempatnya manusia itu pongah (arogan) dengan ilmu yang didapatnya sekarang ini dan yang akan datang. Manusia hanya mampu menempuh jarak satu setengah detik cahaya, yaitu ke bulan. Bacalah Firman Allah SWT di bawah ini: Walaw anna maa fiy lArdhi min Syajarin Aqlaamun wa lBahru Yamudduhu min ba'dihi Sab'atu Abhurin maa Nafidat Kalima-tu Lla-ha inna Lla-ha 'Aziyzun Hakiymun (S.Luqma-n,27). Andaikan pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta ditambahkan lagi tujuh laut sesudah keringnya, niscaya tidak akan habis-habisnya dituliskan Kalimah Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana (31:27). 
Jadi walaupun seluruh manusia mempergunakan kalam yang dibuat dari seluruh pepohonan di bumi, dan laut dijadikan tinta ditambah lagi tak terbilang banyaknya laut (tujuh itu menyatakan tak terbilang banyaknya), kalam habis menyusut pupus, laut menyusut kering, takkan habislah dituliskan makhluq ciptaan Allah. Wa Lla-hu A'lamu bi shShawab. 
*** Makassar, 1 Desember 1991 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
[BACK]  [HOME]

008. Berapakah Harga Kemajuan Materiel? 

Menurut Ejaan Yang Disempurnakan materiel seharusnya ditulis dengan material, akan tetapi dari rasa bahasa tidak begitu enak. Mengapa tidak enak, oleh karena selama ini kita biasa dengan pembedaan arti material dengan materiel. Material sebelum EYD berarti sesuatu yang teraba, tangible, sedangkan materiel sesuatu yang abstrak, tak teraba. Oleh sebab itu saya minta izin kepada lembaga yang bertanggung jawab terhadap EYD, untuk dalam tulisan ini melanggar EYD, ya karena masalah rasa bahasa. Tidak rasional sebetulnya, akan tetapi tidak selamanya yang rasional itu lebih benar ketimbang segi rasa. Sekali-sekali rasa boleh tampil mengungguli yang rasional, bila perlu. 
Dilihat dari segi kemajuan materiel, negara-negara maju (developed countries) ditandai dengan pesatnya industri padat modal (capital intensive), yang menghasilkan tingginya G.N.P. Di negara negara maju kwantitas output industri meningkat dengan cepatnya, jauh lebih cepat dari pertambahan penduduk. Apa yang menyebabkan pertumbuhan yang cepat itu, ialah lebih banyak investasi modal di bidang industri, menghasilkan lebih banyak output. Sebagian dari output itu dipakai untuk menambah investasi pula. Modal yang baru yang lebih besar itu akan menghasilkan pula output yang baru lagi yang lebih besar. Tak ubahnya dengan roda yang berputar makin lama makin cepat. Keadaan yang demikian itu dikenal dengan istilah "umpan balik positif" (positive feedback). 
Peningkatan produksi berjalin pengaruh-mempengaruhi dengan sikap hidup di negara-negara maju itu. Iklim dunia industri menuntut sikap hidup yang serba efisien dalam pengertian serba gerak cepat. Sebagai contoh, mobil-mobil di jalan bebas hambatan (high ways) di Eropah lajunya sekitar 160 km per jam. Maka ban-ban mobil yang semestinya masih dapat dipergunakan untuk laju yang lebih rendah, sudah mesti dibuang. Ini berarti menyuburkan industri karet sintetis dan industri ban-ban mobil. Makan dengan cepat menuntut cara makan dengan sistem makanan kotak (packaged foods), makanan berbungkus plastik dengan alat-alat makan seperti piring, sendok, garpu dari plastik. Jadi tidak usah menghabiskan waktu untuk mencuci piring. Habis makan, pembungkus, alat-alat makan piring, garpu sendok, pisau yang dari plastik itu dibuang saja. Dan ini menyuburkan industri plastik. Di Indonesia dan di negara-negara sedang berkembang lainnya (developing countries) gaya makan seperti ini sudah mulai mewabah juga. 
Dari kedua contoh di atas dapat dilihat pengaruh timbal balik antara sikap hidup efiseien dengan roda produksi. Bukan itu saja, dari pihak industri/produsen dilancarkan tekanan terus menerus terhadap masyarakat dalam hal "selera" dengan reklame-reklame, iklan-iklan melalui mas media, spanduk-spanduk, pamflet-pamflet tempel dan selebaran, lampu-lampu dsb. Hasilnya, bahan-bahan sintetis mendesak bahan alamiyah, dan dari sudut ekonomi ini perlu, oleh karena negara-negara maju itu dapat bebas dari bahan-bahan mentah alamiyah yang semestinya diimport. Pengolahan bahan-bahan sintetis jauh lebih banyak membutuhkan bahan bakar dibanding dengan pengolahan bahan-bahan alamiyah. Di samping itu sikap hidup ingin serba mudah dan ringan, maka masyarakat di negara-negara maju itu membutuhkan banyak sekali budak-budak tenaga (energy slaves, maksudnya mesin-mesin). Sebagai contoh, di Amerika Serikat misalnya dibutuhkan lebih dari 8 triliyun daya kuda setiap tahunnya. Ini berarti setiap kepala di negara itu membutuhkan daya yang setara dengan 500 orang. Jadi pada hakekatnya, dilihat dari pemakaian daya, penduduk Amerika Serikat jumlah penduduknya yang sekarang harus ditambahkan dengan lipat 500 kali lagi. Dalam hubungan dengan ini Dr. James P.Lodge Jr dari The National Center for Atmosphere Research di Boulder, Colorado berkata: "We must limit our own population it is true, but it is even more necessary to impose a program of rigorous birth control on our energy slaves," maksudnya kita (orang Amerika) harus membatasi jumlah penduduk itu benar, akan tetapi yang lebih penbting ialah merencanakan pembatasan kelahiran yang ketat terhadap budak-budak tenaga kita. 
Budak-budak tenaga itu menimbulkan malapetaka di darat dan di laut. Di darat artinya di tanah, di sungai dan udara di atas tanah dan sungai. Malapetaka itu berupa sampah-sampah, terutama sekali plastik dan teman-temannya yang sukar hancur, semisal ban-ban bekas. Pencemaran sungai-sungai oleh limbah zat-zat kimiawi dari pabrik-pabrik, pencemaran thermal sungai-sungai yang airnya dipakai untuk proses pendinginan. Demikianlah sungai-sungai itu dicemari oleh budak-budak tenaga dari dalam pabrik-pabrik. Sungai Rijn di Eropah misalnya sudah hampir menjadi selokan besar. Pencemaran udara di atas darat oleh cerobong gas asap pabrik-pabrik, terutama sekali CO2 sebagai penyebab globalisasi pencemaran thermal. Mengenai globalisasi pencemaran thermal ini, sebagai penyegaran ingatan, refreshing, silakan dibaca lagi seri 003 yang lalu. Pencemaran laut terjadi karena laut menampung air sungai yang kotor. Juga pencemaran di laut diakibatkan pula dari kapal-kapal tangki minyak yang pecah, yang bocor dan yang dicuci perutnya di tengah laut. Bencana yang disebutkan di atas itu diakibatkan oleh kotoran budak-budak tenaga itu. Di samping kotoran, budak-budak tenaga itu membutuhkan makanan, untuk dapat menghasilkan kotoran. Makanan budak-budak tenaga itu, yaitu minyak, juga membawa bencana. Adapun perang teluk baru-baru ini akibat makanan budak-budak tenaga itu. Jangan dikira kotoran budak-budak tenaga itu tidak mengakibatkan perang. Akibat pencemaran laut, maka daerah yang ikan mampu untuk dapat hidup tambah menjauh dari pantai. Pada tahun 1973 Eslandia mengklaim daerah lautnya melebihi dari aturan internasional. Eslandia mengancam akan menembaki kapal-kapal nelayan asing yang menangkap ikan pada daerah yang diklaimnya itu. Para nelayan Inggeris tidak menghiraukan ancaman itu, karena pikir mereka daerah itu adalah daerah lautan internasional, siapapun berhak menangkap ikan di situ. Dan Eslandia memenuhi ancamannya. Kapal-kapal nelayan Inggeris ditembakinya. Dan inilah yang dikenal dengan perang kabeljau dalam tahun 1973. 
Demikianlah harga kemajuan materiel. Sangat mahal, dibayar dengan globalisasi pencemaran dan perang. Memang tidak ada yang gratis di permukaan bumi ini. Maka dengarlah firman Allah: Zhahara lfasaadu fi lbarri wa lbahri bimaa kasabat aydinnaas, liyudziyqahum ba'dhalladziy 'amiluw, la'allahum yarji'uwn. Muncullah bencana di darat dan di laut akibat tangan-tangan manusia. Demikian dirasakan kepada mereka (oleh Allah) sebagian yang mereka kerjakan. Mudah-mudahan mereka kembali ke jalan yang benar. (S. Ar Rum 41). 
Dan bagi mereka yang sangat getol memproduksi dan memakai tanpa perhitungan matang budak-budak tenaga, lalu mereka menyangka berbuat baik terhadap ummat manusia, berbuat baik untuk kemajuan peradaban dan kebudayaan, dengarlah firman Allah yang berikut: Wa idzaa qiyla lahum laa tufshiduw fi l.ardhi qaaluw innamaa nahnu mushlihuwn. Alaa innahum humu lmufshiduwna, wa la-kin laa yasy'uruwn. Apabila dikatakan kepada mereka jangan membuat bencana di atas bumi, mereka menjawab sesungguhnya kami berbuat baik. Tidaklah demikian, sesungguhnya mereka itu merusak, tetapi mereka tidak sadar akan hal itu. (Al Baqarah 11 dan 12). WaLlahu a'lamu bisshawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia
Science is My Way of Life