Welcome to My Blog

Saran dan kritikan dari anda sangat dibutuhkan demi perbaikan mutu blog ini

21 Mei, 2011

YANG TERSEMBUNYI DI BALIK PERCOBAAN MILLER



“Miller tampak tak terkesan dengan teori-teori terkini yang diajukan tentang asal usul kehidupan, dan menganggapnya sebagai “omong kosong” atau “kimia di atas kertas.” …Miller mengakui bahwa para ilmuwan mungkin tak pernah tahu dengan pasti di mana dan kapan kehidupan berawal.”
Penelitian yang paling diterima luas tentang asal usul kehidupan adalah percobaan yang dilakukan peneliti Amerika, Stanley Miller, di tahun 1953. (Percobaan ini juga dikenal sebagai “percobaan Urey-Miller” karena sumbangsih pembimbing Miller di University of Chicago, Harold Urey). Percobaan inilah satu-satunya “bukti” milik para evolusionis yang digunakan untuk membuktikan pendapat tentang “evolusi kimiawi”. Mereka mengemukakannya sebagai tahapan awal proses evolusi yang mereka yakini, yang akhirnya memunculkan kehidupan.
Melalui percobaan, Stanley Miller bertujuan membuktikan bahwa di bumi yang tak berkehidupan miliaran tahun lalu, asam amino, satuan molekul pembentuk protein, dapat terbentuk dengan sendirinya secara alamiah tanpa campur tangan sengaja apa pun di luar kekuatan alam. Dalam percobaannya, Miller menggunakan campuran gas yang ia yakini terdapat pada bumi purba (yang kemudian terbukti tidak tepat). Campuran ini terdiri dari gas amonia, metana, hidrogen, dan uap air. Karena gas-gas ini takkan saling bereaksi dalam lingkungan alamiah, ia menambahkan energi ke dalamnya untuk memicu reaksi antar gas-gas tersebut. Dengan beranggapan energi ini dapat berasal dari petir pada atmosfer purba, ia menggunakan arus listrik untuk tujuan tersebut.
Miller memanaskan campuran gas ini pada suhu 100 derajat C selama seminggu dan menambahkan arus listrik. Di akhir minggu, Miller memeriksa zat-zat kimia yang telah terbentuk di dasar tabung, dan mengamati bahwa tiga dari dua puluh asam amino yang menyusun unsur-unsur pembentuk protein telah dihasilkan.
Percobaan ini memunculkan kegembiraan luar biasa di kalangan evolusionis, dan dikemukakan sebagai sebuah keberhasilan besar. Lebih dari itu, dalam kegembiraan yang berlebihan, beragam media cetak memuat judul utama seperti “Miller menciptakan kehidupan.” Padahal, yang berhasil dibuat Miller hanyalah sejumlah kecil molekul-molekul tak hidup. Namun sejak saat itu, percobaan Miller terbukti keliru dalam banyak hal.
GUGURNYA PERCOBAAN MILLER
Ditujukan untuk membuktikan bahwa asam amino dapat terbentuk dengan sendirinya dalam lingkungan menyerupai bumi purba, Percobaan Miller malah mengandung ketidaksesuaian dalam sejumlah hal:

Kini, Miller pun menerima bahwa percobaannya di tahun 1953 belum mampu menjelaskan asal usul kehidupan.
1- Dengan menggunakan mekanisme yang disebut “perangkap dingin”, Miller memisahkan molekul-molekul asam amino dari lingkungan, segera setelah terbentuk. Andai ia tidak melakukannya, keadaan lingkungan tempat asam amino terbentuk akan segera merusak molekul-molekul tersebut.
Tidak diragukan, mekanisme pemisahan sengaja seperti ini tidaklah ada pada bumi purba. Padahal, tanpa mekanisme seperti ini, sekalipun satu saja asam amino didapatkan, molekul tersebut akan cepat menjadi rusak. Ahli kimia, Richard Bliss, mengungkapkan ketidaksesuaian ini:
“Sebenarnya, tanpa perangkap ini, zat-zat kimia yang dihasilkan akan dirusak oleh sumber energi.” (Richard B. Bliss, Gary E. Parker, Duane T. Gish, Origin of Life, C.L.P. Publications, 3rd ed., California, 1990, h. 14-15.)
Dan benar adanya, dalam percobaan-percobaan sebelumnya, Miller tidak mampu membuat satu pun asam amino dari bahan-bahan yang sama tanpa mekanisme perangkap dingin.
2- Atmosfer purba yang Miller coba tiru dalam percobaannya tidaklah sesuai dengan kenyataan. Di tahun 1980-an, para ilmuwan sepakat bahwa seharusnya gas nitrogen dan karbon dioksidalah yang digunakan dalam lingkungan buatan itu dan bukan metana serta amonia.
Lalu, kenapa Miller bersikukuh menggunakan gas-gas ini? Jawabannya sederhana: tanpa amonia, mustahil membuat asam amino apa pun. Kevin Mc Kean berbicara tentang hal ini dalam sebuah tulisan di majalah Discover:
Miller dan Urey meniru atmosfer purbakala di bumi dengan campuran metana dan amonia. …Namun, dalam kajian-kajian terakhir, telah diketahui bahwa bumi sangatlah panas kala itu, dan tersusun atas nikel dan besi leleh. Karenanya, atmosfer kimiawi di masa itu sebagian besarnya haruslah tersusun atas nitrogen (N2), karbon dioksida (CO2), dan uap air (H2O). Tapi gas-gas ini tidaklah sepenting metana dan amonia bagi pembentukan molekul-molekul organik (Kevin Mc Kean, Bilim ve Teknik (Science and Technology), no. 189, h. 7.)
Ilmuwan Amerika, J. P. Ferris dan C. T. Chen mengulangi percobaan Miller dengan menggunakan lingkungan atmosfer yang berisi karbon dioksida, hidrogen, nitrogen, dan uap air; dan mereka tidak mampu mendapatkan bahkan satu saja molekul asam amino. (J. P. Ferris, C. T. Chen, "Photochemistry of Methane, Nitrogen, and Water Mixture As a Model for the Atmosphere of the Primitive Earth," Journal of American Chemical Society, vol. 97:11, 1975, h. 2964.)
3- Satu hal penting lain yang menggugurkan percobaan Miller adalah tersedianya cukup oksigen yang mampu merusak seluruh asam amino di atmosfer ketika molekul ini diyakini telah terbentuk. Kenyataan ini, yang diabaikan oleh Miller, diungkap oleh sisa-sisa besi teroksidasi yang ditemukan di bebatuan yang diperkirakan berusia 3,5 miliar tahun. ("New Evidence on Evolution of Early Atmosphere and Life," Bulletin of the American Meteorological Society, vol. 63, November 1982, h. 1328-1330.)
Terdapat sejumlah temuan yang menunjukkan bahwa kadar oksigen di atmosfer kala itu jauh lebih tinggi daripada yang sebelumnya dinyatakan para evolusionis. Berbagai penelitian juga menunjukkan, jumlah radiasi ultraviolet yang kala itu mengenai bumi adalah 10.000 lebih tinggi daripada perkiraan para evolusionis. Radiasi kuat ini dipastikan telah membebaskan oksigen dengan cara menguraikan uap air dan karbon dioksida di atmosfer.
Keadaan ini sama sekali bertentangan dengan percobaan Miller, di mana oksigen sama sekali diabaikan. Jika oksigen digunakan dalam percobaannya, metana akan teruraikan menjadi karbon dioksida dan air, dan amonia akan menjadi nitrogen dan air. Sebaliknya, di lingkungan bebas oksigen, takkan ada pula lapisan ozon; sehingga asam-asam amino akan segera rusak karena terkena sinar ultraviolet yang paling kuat tanpa perlindungan dari lapisan ozon. Dengan kata lain, dengan atau tanpa oksigen di bumi purba, hasilnya adalah lingkungan mematikan yang bersifat merusak bagi asam amino.
4- Di akhir percobaan Miller, terbentuk pula banyak asam organik yang bersifat merusak struktur dan fungsi makhluk hidup. Jika saja asam-asam amino tidak dipisahkan, dan dibiarkan pada lingkungan yang sama bersama zat-zat kimia ini, maka perusakan atau perubahan asam-asam amino menjadi senyawa-senyawa lain melalui berbagai reaksi kimia takkan terhindarkan.
Terlebih lagi, percobaan Miller juga menghasilkan asam-asam amino dekstro. Dihasilkannya asam-asam amino jenis ini dengan sendirinya menggugurkan teori tersebut, sebab asam amino dekstro tidak dapat digunakan bagi pembentukan makhluk hidup. Kesimpulannya, lingkungan yang menjadikan terbentuknya asam amino pada percobaan Miller tidaklah sesuai untuk kehidupan. Pada kenyataannya, medium ini berwujud campuran asam yang merusak dan mengoksidasi molekul-molekul berguna yang dihasilkan.
Semua fakta ini menunjukkan pada satu kebenaran nyata: percobaan Miller tidak dapat membuktikan bahwa makhluk hidup terbentuk dengan sendirinya tanpa sengaja karena pengaruh lingkungan menyerupai bumi purba. Keseluruhan percobaan itu tak lebih dari sekedar percobaan laboratorium yang terkendali untuk membuat asam-asam amino. Kenyataannya, dengan percobaannya, Miller menghancurkan pernyataan evolusi bahwa “kehidupan terbentuk akibat peristiwa-peristiwa tak disengaja.” Sebab, jika percobaan itu dianggap membuktikan sesuatu, maka itu adalah bahwa asam amino hanya dapat terbentuk di lingkungan laboratorium yang terkendali di mana semua kondisinya secara khusus dirancang melalui campur tangan sengaja.
Kini, percobaan Miller sama sekali diabaikan oleh para ilmuwan evolusionis sekalipun. Di jurnal ilmiah terkenal evolusionis, Earth, pernyataan berikut muncul dalam sebuah tulisan berjudul “Life’s Crucible”:
Ahli geologi sekarang beranggapan bahwa atmosfer purba utamanya terdiri dari karbon dioksida dan nitrogen, gas-gas yang lebih sulit bereaksi daripada yang digunakan dalam percobaan tahun 1953. Dan bahkan seandainya atmosfer Miller pernah ada, bagaimana Anda mendapatkan molekul-molekul sederhana seperti asam amino melalui perubahan-perubahan kimiawi yang diperlukan yang akan mengubahnya menjadi senyawa-senyawa yang lebih rumit, atau polimer, semacam protein? Miller sendiri menyerah di seputar teka teki ini. “Ini adalah masalah,” ia mendesah dengan gusar. “Bagaimana Anda membuat polimer? Itu tidaklah mudah.” ("Life's Crucible," Earth, February 1998, h. 34.)
John Horgan, dalam bukunya The End of Science (Akhir dari Ilmu Pengetahuan), menuturkan bahwa Stanley Miller memandang teori-teori yang dikemukakan di kemudian hari tentang asal usul kehidupan sungguh tidak berarti:
Nyatanya, hampir 40 tahun setelah percobaan aslinya, Miller mengatakan kepada saya bahwa memecahkan teka teki tentang asal usul kehidupan ternyata lebih sulit dari yang ia atau orang lain pernah bayangkan…Miller tampak tak terkesan dengan teori-teori terkini yang diajukan tentang asal usul kehidupan, dan menganggapnya sebagai “omong kosong” atau “kimia di atas kertas.” Ia begitu mengabaikan sejumlah hipotesis sehingga, ketika saya tanya pendapatnya tentang hipotesis itu, ia hanya menggelengkan kepala, mendesah dalam-dalam, dan tertawa terkekeh-kekeh – seolah terliputi oleh kebodohan manusia…Miller mengakui bahwa para ilmuwan mungkin tak pernah tahu dengan pasti di mana dan kapan kehidupan berawal. (Horgan, John, The End of Science, MA Addison-Wesley, 1996, h. 139.)
Inilah pengakuan Miller yang sesungguhnya. Anehnya, mengapa percobaan Miller masih saja dimuat di buku-buku pelajaran dan dianggap sebagai bukti penting asal usul kehidupan secara kimiawi? Ini sekali lagi menunjukkan betapa evolusi bukanlah teori ilmiah, melainkan keyakinan buta yang tetap dipertahankan meskipun bukti menunjukkan hal sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia
Science is My Way of Life